Intornusantara — Di tengah dunia yang semakin bising oleh notifikasi, algoritma, dan kabar-kabar yang berkejaran dalam layar, membaca kini bukan lagi sekadar kegiatan memahami huruf, melainkan laku spiritual untuk menemukan kembali keheningan diri.
Membaca adalah jalan pulang menuju pengetahuan yang hakiki. Di zaman yang serba cepat ini mulai ditinggalkan. Namun, membaca tak sekadar membuka buku, ia menuntut kesadaran, disiplin, dan kepekaan rasa.
Para sastrawan, filsuf, hingga psikolog pendidikan telah lama memperingatkan bahwa manusia kehilangan jati dirinya ketika berhenti membaca dengan jiwa. Sebab, di dalam setiap lembar bacaan yang kita nikmati, tersembunyi cara untuk memahami bukan hanya dunia, tetapi juga diri sendiri.
Baca Juga:
Industri Ekstraktif, Kesejahteraan Untuk Siapa?
Lalu bagaimana cara membaca yang bukan sekadar melihat huruf, melainkan menyelam ke dalam makna?
Berikut lima tips membaca yang dihimpun dari pandangan para ahli dan dituturkan melalui napas sastra, agar membaca terasa sebagai seni, bukan rutinitas.
1. Membaca dengan Keheningan: Seperti Mendengar Detak Jiwa
Seorang filsuf asal Perancis, Albert Camus, pernah berkata, “Manusia modern kehilangan makna karena kehilangan kemampuan untuk diam.”
Dalam keheningan, membaca menemukan rumahnya. Saat membaca tanpa distraksi, kita bukan hanya memindai teks, tetapi menyerap makna seperti akar yang meneguk air dari tanah dalam.
Baca Juga:
Darurat Infrastruktur Pendidikan dan Cermin Kegagalan Pengawasan di SMP Muhammadiyah Galela
Psikolog pendidikan Dr. Daniel T. Willingham (University of Virginia) menekankan bahwa kemampuan memahami bacaan sangat dipengaruhi oleh tingkat fokus. Membaca di tempat tenang, jauh dari gawai, memperdalam daya serap dan melatih otak untuk berempati.
Ia menulis: “Membaca adalah dialog batin antara teks dan pikiran, ketika pikiran bising, dialog itu menjadi monolog yang kosong.”
Keheningan bukan berarti kesunyian mutlak. Ia adalah ruang batin, tempat pembaca menegosiasikan diri dengan makna. Di sana, kita membiarkan kalimat hidup, berdetak, dan perlahan menjadi bagian dari diri kita sendiri.
2. Membaca dengan Rasa Ingin Tahu: Kuncinya adalah Cinta pada Makna
“Orang yang membaca karena kewajiban tidak akan menemukan kebahagiaan dalam buku,” tulis Umberto Eco, penulis The Name of the Rose.
Rasa ingin tahu adalah api yang menghidupkan halaman demi halaman. Ia membuat kita membaca bukan karena harus, tapi karena ingin tahu apa yang tersembunyi di balik kata-kata.
Baca Juga:
Wajah Ganda Pendidikan di Maluku Utara
Ahli literasi, Frank Smith, dalam bukunya Understanding Reading, menjelaskan bahwa motivasi intrinsik jauh lebih kuat dibanding paksaan eksternal.
“Seseorang akan memahami teks lebih baik ketika ia membaca karena ingin tahu, bukan karena diuji,” tulisnya.
Rasa ingin tahu menumbuhkan daya kritis dan melahirkan kebebasan berpikir. Di sanalah, pembaca akan tumbuh menjadi pencipta makna, bukan sekadar penikmat.
Dalam konteks ini, membaca tak lagi sekadar menjadi kegiatan intelektual, tapi juga perjalanan emosional. Kita jatuh cinta pada makna, bukan sekadar pada teks.
3. Membaca dengan Catatan: Dialog Antara Pikiran dan Kertas
Milan Kundera pernah mengatakan, “Membaca tanpa mencatat sama halnya berjalan di taman tanpa melihat bunga.”
Baca Juga:
Akademik Bukan Arena Kekerasan, Melainkan Ruang Pertarungan Ide
Catatan bukan sekadar goresan pena, melainkan percakapan antara pembaca dengan teks. Dengan mencatat, kita menandai jejak makna yang menggetarkan, kalimat yang menampar, atau ide yang perlu direnungkan kembali.
Peneliti literasi Maryanne Wolf dari Tufts University menekankan pentingnya membaca dengan reflektif. Ia menulis bahwa membaca yang mendalam (deep reading) memerlukan waktu, perhatian, dan keterlibatan emosional.
“Ketika seseorang menulis ulang pikirannya dalam bentuk catatan, otaknya membentuk koneksi baru antara memori dan makna.” tulisnya.
Maka, jangan takut menodai halaman dengan coretan kecil di pinggirnya. Di sanalah seni membaca bekerja dan menjadikan buku bukan sekedar benda mati, tetapi teman dialog yang hidup.
4. Membaca dengan Empati: Menyelami Dunia Orang Lain
Membaca adalah jendela untuk memahami kemanusiaan. Di setiap novel, puisi, atau berita sastra, kita belajar menjadi orang lain untuk sementara waktu.
Baca Juga:
Obrolan di Ketinggian: SilaturaHMI dan Malam yang Tenang
Neurosaintis Keith Oatley dari University of Toronto menemukan bahwa membaca fiksi memperkuat empati, karena otak bekerja seolah-olah kita mengalami kisah yang dibaca. Ia menulis: “Membaca membuat kita hidup berkali-kali dalam satu kehidupan.”
Ketika kita membaca kisah seorang nelayan di Halmahera yang kehilangan lautnya, atau seorang perempuan di pedalaman Papua yang memperjuangkan pendidikan, kita tidak sekadar tahu, namun kita merasa.
Dan di sanalah letak keajaiban membaca bahwa ia menyatukan yang jauh, merangkul yang asing, dan menjembatani jurang antara aku dan engkau.
5. Membaca dengan Ritme: Disiplin dan Kelembutan Waktu
Sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah.”
Baca Juga:
Kehidupan Kolektivisme Masyarakat Adat: Dari Komunal Primitif hingga Zaman Modern
Namun sebelum menulis, seseorang harus membaca dengan tekun. Dan ketekunan itu lahir dari ritme, dari kebiasaan yang dijaga, meski hanya sepuluh halaman sehari.
Ahli psikologi kognitif Charles Duhigg dalam bukunya The Power of Habit menjelaskan bahwa rutinitas membaca, bila dilakukan secara konsisten, menumbuhkan kebiasaan mental yang kuat. Otak akan menandai waktu membaca sebagai momen reflektif, bukan kewajiban.
Maka, pilihlah waktu terbaik, pagi sebelum kesibukan menelan pikiran, atau malam sebelum tidur menenangkan jiwa. Bacalah perlahan, tanpa tergesa. Biarkan kata-kata menetes seperti hujan kecil yang menyuburkan tanah kesadaran.
Membaca sebagai Laku Kesadaran
Di dunia yang sibuk menjual keseruan instan, membaca menjadi tindakan subversif. Ia menolak kecepatan, menantang kelupaan, dan mengajak manusia berpikir.
Baca Juga:
Membaca Ekopopulisme di Tanah Nikel
Seorang penyair Amerika, Emily Dickinson, pernah menulis, “Tidak ada kapal yang seindah buku, yang membawa kita ke negeri-negeri jauh tanpa meninggalkan rumah.”
Maka, membaca bukan hanya kebiasaan intelektual, tapi laku spiritual. Ia menuntut kesunyian, keingintahuan, empati, dan ritme. Ia menuntun kita bukan sekadar memahami dunia, tapi menafsirkan keberadaan.
Dalam setiap halaman yang dibuka, manusia sebenarnya sedang membuka dirinya sendiri dan menemukan kembali alasan untuk berpikir, merasa, serta mencintai kehidupan.
Catatan Akhir:
Artikel ini disusun sebagai refleksi sastra-jurnalistik, menghimpun pandangan dari para ahli literasi seperti Daniel T. Willingham, Frank Smith, Maryanne Wolf, Keith Oatley, dan Charles Duhigg, serta dikontekstualkan dengan pandangan para sastrawan dunia. Karena membaca, dalam arti terdalamnya, adalah seni untuk menjadi manusia seutuhnya.
(Abi/Red)
