Politik dan Ideologi Lokomotif di Depan Gerbong Ekonomi

Oleh : Yudi Aher S.H.,

Apa yang kamu pikirkan? Sekarang kosongkan pikiran liar kamu untuk membaca dengan patut. Kita akan membahas ide yang merubah jalan pikiran kamu. 

Dalam narasi pembangunan modern, kita sering kali terjebak pada angka-angka pertumbuhan Pendapatan Daerah atau Bangsa (PDB), neraca perdagangan, dan stabilitas mata uang. Seolah-olah ekonomi adalah segalanya. Namun, sejarah membuktikan bahwa tanpa kompas ideologi dan kendali politik yang kuat, ekonomi hanyalah mesin tanpa tujuan yang bisa bergerak ke arah yang salah.

Kemungkinan kita bernarasi dalam hidup ini bergantung dengan ekonomi. Mustahil jika kebenarannya demikian, saya rasa kita perlu konfirmasi ke dunia nyata bahwa saat ini terlihat harga diri jadi ancaman yang tidak berprinsip pada politik dan ideologi.

Ideologi sebagai Kompas Moral

Ekonomi berbicara tentang bagaimana cara mengelola sumber daya, tetapi ideologi menjawab pertanyaan untuk siapa sumber daya itu dikelola. Narasi elit politisi menafsir dengan konsep perubahan soalnya sendiri.

Tanpa ideologi yang jelas, Pertumbuhan ekonomi bisa melaju kencang, namun jurang ketimpangan semakin lebar. Melirik ke depan bukan untuk hari ini. Oleh karena itu, siap yang bisa imbangi dirinya dengan ideologi sebagai mata ketiga adalah jalan menuju pencerahan kehidupan, hal ini terus berkecamuk di tubuh sosial ialah derita bukti transaksi bisnis.

Kita akan uji kemungkinan-kemungkinan bagaimana pada abad 17 dan 18 ke abad 19, apakah kamu membaca sudah menentukan ideologi yang tepat atau belum? Kamu harus pilih ideologi yang tepat sebagai jalan untuk menganalisa pembangunan infrastruktur dilakukan secara masif, namun mengabaikan kedaulatan lingkungan. Pasar menjadi liar karena tidak memiliki pijakan nilai yang berpihak pada keadilan sosial. Kamu bisa paham ya

Politik sebagai Kendali Arah

Jika ekonomi adalah tenaga penggerak (mesin), maka politik adalah kemudinya. Menguasai politik berarti memiliki otoritas untuk menentukan regulasi yang memastikan ekonomi bekerja demi kepentingan rakyat banyak, bukan sekadar segelintir elite.

Ketika politik tunduk pada ekonomi (teknokrasi murni), maka negara hanya menjadi “manajer” bagi pasar. Sebaliknya, ketika politik berdaulat, negara memiliki kemampuan untuk mendikte pasar agar sejalan dengan cita-cita nasional.

Sinkronisasi Lokomotif dan Gerbong

Kamu memiliki hak untuk membaca  ayo. Menguasai politik dan ideologi bukan berarti mengabaikan urusan ekonomi. Sebaliknya, ini adalah tentang hierarki kepemimpinan. Ekonomi yang kuat memerlukan stabilitas politik, dan politik yang stabil memerlukan akar ideologi yang menghujam di tengah masyarakat. “Ekonomi tanpa politik adalah buta, dan Politik tanpa ekonomi adalah lumpuh.” Apakah kamu bisa paham.

Dalam konteks arah juang, lokomotif ideologi memastikan bahwa setiap kebijakan ekonomi baik itu investasi asing, hilirisasi industri, maupun penguatan UMKM memiliki satu muara. Oke hal yang paling licin di dunia ini orang berkata adalah ekonomi. Saya yakin kehilangan prinsip hidup adalah sama hilangnya nilai spritual. Bahasa sederhana kesejahteraan yang Berkeadilan.

Kesimpulan

Urusan ekonomi memang krusial untuk keberlangsungan hidup, namun ia hanyalah instrumen. Kedaulatan sejati diraih ketika kita mampu memegang kendali atas narasi besar (ideologi) dan instrumen kekuasaan (politik). Dengan begitu, ekonomi tidak lagi menjadi tuan yang mendikte, melainkan pelayan yang setia bagi cita-cita besar bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *