Kebodohan Ontologis Laki-Laki: Ketika Perempuan Dijadikan Objek Ekonomi dan Seksualitas

Oleh: Riski D Falillah | Anggota Komunitas PUSAKA FITRA

 

Dalam filsafat, manusia selalu di pahami sebagai subjek, makhluk yang sadar, yang memilih, dan yang memiliki dunia batin yang tak ternilai. Karena itu, ketika seseorang mereduksi manusia lain menjadi objek, ia sedang melakukan bentuk kekerasan paling halus namun paling mematikan.

Objektifikasi merampas kebebasan, memadamkan kesadaran, dan menggerogoti martabat. Ia bukan hanya kesalahan etis; ia adalah kesalahan ontologis, sebuah kebodohan metafisik dalam memahami apa itu ā€œmanusia.ā€

Namun sebagian laki-laki hari ini masih menempatkan perempuan pada posisi yang paling rendah: sebagai objek ekonomi untuk menopang hidupnya, atau sebagai objek seksual untuk menenangkan egonya.

Baca juga:
Hutan Patani, Nafas Terakhir yang Harus Dijaga

Dengan melakukan itu, ia bukan hanya merendahkan perempuan, ia sedang mempertontonkan keterbatasan intelektualnya sendiri. Ada kebodohan eksistensial di sana: ketidakmampuan melihat perempuan sebagai ada yang berdiri sendiri, sebagai subjek yang otonom.

Dalam bahasa Simone de Beauvoir, laki-laki seperti ini memaksakan dirinya menjadi pusat dunia dan mendorong perempuan ke posisi Liyan, hanya sebagai ornamen bagi keberadaannya.

Ini bukan dominasi; ini ketakutan. Laki-laki yang mengobjektifikasi perempuan sesungguhnya takut pada kedalaman perempuan, takut pada kebebasan perempuan, pada pemikiran perempuan, pada kemampuan perempuan untuk mengatakan ā€œtidakā€ dan tetap hidup.

Baca juga:
Menakar Akuntabilitas: Pengawasan Inspektorat dan Masa Depan Pembangunan Yondeliu

Paradoks filsafat mengungkapkan satu hal yang lebih memalukan: Siapa yang menjadikan orang lain sebagai objek, sebenarnya sedang mengobjektifikasi dirinya sendiri.

Laki-laki yang melihat perempuan sebagai sumber uang sedang merendahkan dirinya menjadi makhluk yang tidak mampu hidup tanpa menumpang nilai orang lain. Laki-laki yang melihat perempuan semata sebagai tubuh sedang menurunkan dirinya ke derajat insting primitif.

Ia berhenti menjadi subjek yang merdeka, dan berubah menjadi budak dari dorongan dan kelemahannya sendiri. Inilah tragedi eksistensial yang jarang ia sadari.

Dalam sejarah filsafat, perempuan terlalu sering di tempatkan dalam bayang-bayang. Tetapi kini kita tahu: perempuan adalah subjek penuh, pemikir, pencipta, penanggung dunia batin yang luas. Menguranginya menjadi objek bukan hanya salah, itu menunjukkan kebangkrutan intelektual dan moral dari laki-laki yang melakukannya.

Baca juga:
HUT Kabupaten yang Kehilangan Arah: Tanah Adat, Ekologi, dan Rakyat yang Diabaikan

Kualitas sejati manusia terlihat dari bagaimana ia memperlakukan subjek lain. Lki-laki yang gagal melihat keutuhan perempuan sesungguhnya sedang mengakui ketidakutuhannya sendiri.

Itulah sebabnya laki-laki yang memperlakukan perempuan sebagai objek tak layak di sebut dewasa. Ia gagal mencintai bukan karena tidak mampu, tetapi karena ia tidak punya kedalaman batin untuk memahami cinta.

Ia gagal berpikir bukan karena bodoh, tetapi karena ia menolak membuka kesadaran. Ia gagal menjadi manusia karena ia hanya bisa hidup di dalam dunia sempit egonya.

Dalam istilah Kant, ia melanggar hukum moral paling sederhana: memperlakukan manusia sebagai alat. Dan laki-laki yang melanggar prinsip ini tidak sedang menunjukkan kekuasaannya, ia sedang membuktikan kehancuran moralnya sendiri.

Baca juga:
Polemik Desa Tertinggal: Ketidakadilan dalam Pengelolaan Dana

Akhirnya, perempuan tidak membutuhkan laki-laki semacam ini.
Yang sebenarnya membutuhkan perempuan adalah laki-laki itu sendiri, karena tanpa perempuan yang ia rendahkan, ia tidak punya siapa pun untuk menutupi kehampaan dirinya.

Tanpa belajar memanusiakan perempuan, ia akan selamanya menjadi laki-laki yang tidak pernah selesai menjadi manusia.Ā (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *