Hutan Patani, Nafas Terakhir yang Harus Dijaga

Oleh: Sahwi Agil  | Mahasiswa Antropologi Sosial Unkhair Ternate

 

Tanah Patani adalah masa depan. Hutan Patani menawarkan kehidupan yang mulia bagi siapa saja yang menghargai denyut alam. Hutan-hutannya terbentang indah, seakan menjadi tembok pelindung bagi jati diri para leluhur.

Di sana, pepohonan menjulang tinggi memeluk angin, menyampaikan pesan para pendahulu: Hutan Patani tidak membutuhkan tambang; yang ia butuhkan hanyalah generasi yang tak berhenti menjaga kesinambungan kehidupan.

Patani bukan tanah kosong. Patani adalah hamparan kehidupan yang sejak lama menyimpan kisah, rahasia, dan jejak langkah leluhur. Mereka yang mencintai tanah ini dengan kesederhanaan paling tulus.

Di dasar tanah itu, keringat para petani meresap seperti doa; setiap tetesnya menjadi benih harapan yang tumbuh diam-diam di balik hijau yang tak pernah lelah menjaga langit.

Baca juga:
Menakar Akuntabilitas: Pengawasan Inspektorat dan Masa Depan Pembangunan Yondeliu

Namun dunia kini semakin ribut. Perampasan ruang hidup terjadi di mana-mana. Air sungai tercemar, pembunuhan dan pemerkosaan selalu menjadi cerita kelam di lingkar tambang. Maka, “Patani bukan tanah kosong,” demikian suara-suara dari dalam tanah berseru—dari orang-orang yang berani bicara dan melawan.

Mereka tahu, tambang tak pantas hadir di sini. Tambang membawa retakan yang tak terlihat, luka yang tak terdengar, namun perlahan menghancurkan akar kehidupan yang telah lama disemai, dijaga, dan dirawat dengan hati yang waras.

Di tubuh bumi itu bersemayam cinta dan cita para leluhur—cinta para petani, cinta orang-orang yang tumbuh dengan kesetiaan pada tanah. Tetapi kini jiwa-jiwa mulai menjerit kesakitan. Napas kehidupan terputus satu per satu, seperti garis air yang mengering di sungai yang dulu jernih.

Tanah adat selalu memberi hikmah. Namun datanglah orang-orang asing yang ingin mengubah seluruh tatanan sosial kita. Mereka membawa peta konsesi tambang, angka-angka, serta janji-janji yang dingin.

Baca juga:
HUT Kabupaten yang Kehilangan Arah: Tanah Adat, Ekologi, dan Rakyat yang Diabaikan

Sementara kita, anak cucu di tanah ini, hanya bisa meratapi luka dan derita yang membabi buta. Pertanyaan yang menggantung di udara terasa semakin berat: Adakah keadilan di negeri ini?

Telah lama keresahan kusimpan dalam lubuk hati dan kewarasan. Di tanah itu akar kehidupan tumbuh; di sana hidup om, bibi, tete, dan nene.

Mereka adalah orang-orang yang membangun kehidupan dari ketulusan dan kesabaran, dari kedamaian yang tak pernah meminta balasan. Kisah mereka adalah kisah paling tenang yang pernah dimiliki negeri ini.

Hutan Adalah Istana Para Petani

Istana para petani bukan bangunan megah berlapis kaca. Istana mereka adalah hamparan tanah yang bernapas, akar kehidupan yang merayap, langit yang menjadi atap tempat mereka melangitkan doa, dan matahari yang mengetuk pintu hari sebagai isyarat memulai aktivitas.

Baca juga:

Polemik Desa Tertinggal: Ketidakadilan dalam Pengelolaan Dana

Setiap hari mereka berdinas, memasuki kantor berdinding semesta, dengan hati yang tak pernah benar-benar libur. Mama berangkat dengan tas saloi di punggungnya, mengumpulkan harapan yang gugur dari ranting-ranting sabar; menampung rezeki yang disisipkan alam dalam setiap butir keringat, air mata, daun, dan hembusan angin.

Langkah-langkah kecil mereka menapaki setiap anak jalan di tengah hutan, tetapi tekad mereka besar. Karena di setiap jejak tersimpan doa agar anak-anaknya hidup lebih lapang dan tanpa ragu.

Papa melangkah dengan parang di tangan, menjadikannya pena yang menulis kehidupan di atas lembaran hutan, tanah, dan ladang. Setiap ayunan parang adalah kalimat, setiap tetesan keringat adalah tanda baca yang menyempurnakan cerita tentang keteguhan, kesedihan, kepercayaan, dan kedamaian.

Ia menulis masa depan anak cucunya bukan dengan tinta, tetapi dengan tenaga, kesabaran, dan pengorbanan yang tak pernah menuntut pujian, apalagi kesombongan.

Mereka menggenggam parang itu erat, seolah takut kisahnya berhenti begitu saja. Pada daun yang bergoyang mereka menitipkan pesan; pada air yang mengalir mereka titipkan harapan bahwa kehidupan yang mereka perjuangkan akan tumbuh seperti padi—rendah hati ketika berisi, namun menghidupkan siapa pun yang menyentuhnya.

Baca juga:
Industri Ekstraktif, Kesejahteraan Untuk Siapa?

Maka berdirilah di istana bernama Hutan ini. Bukan di atas persaingan gaya hidup yang tak bermakna. Di istana itu, cinta tak pernah kering; harapan tak pernah hilang—ia tumbuh, bersemi, menjadi bekal bagi generasi yang mereka lindungi.

Itulah istana para petani: tempat kehormatan lahir dari kesederhanaan, tempat masa depan ditanam dengan tangan yang kasar namun penuh kasih dan kejujuran. Biarkan Hutan Patani terus hijau; biarkan keringat terus meresap ke tanah kehidupan; dan kita, sebagai pewaris, tumbuh dengan keberanian. Mari terus bersuara atas ketidakadilan dan segala bentuk penyimpangan. Karena hanya ada satu kata: “Menanam adalah melawan!”

Hutan Patani, Benteng Terakhir Ekologis yang Harus Dijaga

Akhir-akhir ini isu mengenai perusahaan yang akan masuk dan beroperasi di daratan Patani semakin sering terdengar. Ini bukan sekadar isu, melainkan alarm bahwa belantara Hutan Patani terancam mengalami nasib yang sama seperti Weda dan Haltim—lumbung kehancuran akibat keserakahan perusahaan.

Di tengah desas-desus kerusakan lingkungan, kita sering terlena dan menganggap semua ini hanya peristiwa kecil yang tak perlu digelisahkan.

Baca juga:
Darurat Infrastruktur Pendidikan dan Cermin Kegagalan Pengawasan di SMP Muhammadiyah Galela

Kita berbicara tentang keselamatan dan keberuntungan seolah keduanya akan selalu berpihak kepada kita. Kita mengira kehancuran tak mungkin mendekat. Anggapan seperti itu, bagi saya, adalah bentuk degradasi kesadaran yang tidak sehat.

Hutan Patani bukan hanya hamparan pepohonan. Ia adalah ruh sekaligus celengan kehidupan masyarakat. Karena itu, jangan ada lagi tangan yang mengganggu hutan ini. Kerusakan yang terjadi di wilayah lain harus menjadi pelajaran keras bagi kita semua, khususnya masyarakat Patani.

Beberapa hari lalu, masyarakat dikejutkan oleh kabar bahwa sebuah perusahaan akan segera bercokol di daratan Patani. Ironisnya, penggerak utama rencana ini bukan orang luar, melainkan orang kampung sendiri.

Alasan yang mereka kemukakan adalah bahwa Hutan Patani tak lagi aman, merujuk pada tragedi pembunuhan yang terjadi tahun lalu. Alasan inilah yang membuat mereka bersikeras memasukkan perusahaan tersebut.

Perusahaan besar sejak lama melirik Patani, bukan sekadar karena bentang hutannya, tetapi karena sebuah gunung yang berdiri kokoh di tengah belantara—gunung yang menyimpan potensi besar untuk ditambang. Hutan Patani adalah benteng ekologis terakhir kita, dan benteng ini sedang diincar. Jika kita diam, hutan ini akan bernasib sama: dihancurkan oleh kerakusan.

Baca juga:
Wajah Ganda Pendidikan di Maluku Utara

Hutan Patani adalah sumber hidup, penopang budaya, dan ruang napas masyarakat. Mengusiknya berarti merampas masa depan. Kita tidak butuh perusahaan yang datang membawa janji, lalu pergi meninggalkan bencana.

Patani tidak butuh mesin raksasa yang menggusur, tidak butuh investasi yang ujungnya merusak. Yang dibutuhkan Patani adalah kedamaian, kesejahteraan yang murni, dan keberanian untuk menolak perbudakan. Saya menulis ini dengan kewarasan, perenungan, dan refleksi terhadap setiap peristiwa yang selalu terjadi di lingkar tambang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *