Ternate, intronusantara ā Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Maluku Utara kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak kader yang unggul secara intelektual, spiritual, dan sosial.
Melalui Advance Training atau Latihan Kader (LK) III Tingkat Nasional Tahun 2025, BADKO HMI Maluku Utara mengusung tema besar: āKrisis Politik Global, Eksistensi Demokrasi, dan Kedaulatan Negara.ā
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi BADKO HMI Maluku Utara dalam merespon perubahan besar yang tengah mengguncang tatanan dunia.
Era globalisasi yang semula di harapkan membawa kemudahan akses informasi dan kemajuan teknologi, kini justru menghadirkan turbulensi geopolitik, krisis kepercayaan, serta ketidakpastian global.
Baca Juga:
Wapres Gibran Di jadwalkan Kunjungan Kerja ke Halmahera Timur, Mahasiswa Nyatakan Penolakan
Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak terlepas dari arus tarik-menarik kepentingan global. Dinamika politik internasional telah membentuk realitas baru yang berpengaruh langsung terhadap kondisi politik dan ekonomi nasional.
BADKO HMI Maluku Utara memandang pentingnya membangun kesadaran kritis kader untuk memahami arah perubahan global dan dampaknya terhadap eksistensi demokrasi serta kedaulatan negara.
Berbagai pengamat menilai, krisis politik global tidak hanya berwujud konflik bersenjata seperti di Timur Tengah, ketegangan di Laut China Selatan, atau perang RusiaāUkraina dan IsraelāPalestina.
Tantangan yang lebih halus namun tidak kalah berbahaya juga hadir dalam bentuk perang dagang, politik identitas, kemerosotan ekonomi, dan perebutan hegemoni teknologi.
Baca Juga:
SMIT Desak Pembebasan 11 Warga Adat Maba Sangaji dan Hentikan Aktivitas PT Position di Maluku Utara
Ketua Panitia LK III Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku Utara Tahun 2025, Alfian M. Hamzah, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin perkaderan, melainkan sebuah penguatan kapasitas intelektual dan ideologis kader HMI di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
āKader HMI harus mampu menganalisis secara komprehensif bagaimana negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat mengimbangi kepentingan global dengan tetap mempertahankan kedaulatan nasional tanpa mengabaikan kepentingan rakyat,ā ujar Alfian, Jumat (31/10/2025).
Ia menambahkan, berbagai praktik oligarki dan intervensi asing, khususnya di sektor sumber daya alam seperti pertambangan di wilayah Maluku Utara, mencerminkan bagaimana kekuasaan ekonomi dapat menggerus kedaulatan negara dan menimbulkan krisis kepercayaan publik.
āKonteks krisis ini menunjukkan adanya praktik oligarki yang merusak sendi-sendi demokrasi dan melemahkan kedaulatan negara. Negara kita harus berani berdiri tegak dengan prinsip keadilan dan keberpihakan kepada rakyat,ā tegasnya.
Baca Juga:
Ketua Umum BPL HMI Ternate Desak Komnas HAM Segera Evaluasi Pimpinan Rutan Soasio Tidore
Sejak berdiri, HMI dikenal sebagai organisasi yang melahirkan kader-kader bangsa dengan pemikiran visioner. Lahir dari semangat keislaman dan keindonesiaan, HMI berkomitmen mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.
āHMI telah melalui perjalanan panjang dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia tumbuh dan bertransformasi bersama dinamika intelektual anak muda yang memiliki kepekaan terhadap isu-isu strategis nasional,ā tambah Alfian.
Melalui sistem perkaderan yang terstruktur, HMI berupaya mencetak kader dengan kemampuan intelektual, spiritual, dan sosial.
Tiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi Muslim intelektual yang berperan aktif dalam perubahan sosial dan pembangunan bangsa.
āMelalui LK III ini, kami ingin menegaskan kembali posisi HMI sebagai laboratorium kader yang melahirkan pemimpin pergerakan bukan hanya berpikir idealis, tetapi juga memiliki strategi untuk membangun masyarakat yang berdaulat dan bermartabat,ā lanjutnya.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Saksikan Penyerahan Uang Pengganti Korupsi CPO Rp13,25 Triliun
Latihan Kader (LK) III merupakan jenjang tertinggi dalam sistem perkaderan HMI. Pelatihan ini menjadi wadah bagi kader terbaik dari berbagai cabang dan daerah di Indonesia untuk memperdalam kemampuan analisis, kepemimpinan, dan keislaman.
Menurut Alfian, peserta Advance Training (LK III) adalah anggota HMI yang telah memenuhi seluruh persyaratan, baik administratif maupun substantif, serta mendapat rekomendasi dari pengurus BADKO atau PB HMI.
āPeserta LK III Tingkat Nasional ini merupakan kader-kader pilihan yang telah melalui proses panjang di tingkat dasar dan menengah. Mereka akan ditempa menjadi pemimpin pergerakan yang mampu membaca zaman,ā jelas Alfian.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah pertukaran gagasan lintas cabang dan daerah HMI se-Indonesia, guna melahirkan jejaring intelektual yang solid dan berorientasi pada perubahan sosial.
Baca Juga:
Darurat Infrastruktur Pendidikan dan Cermin Kegagalan Pengawasan di SMP Muhammadiyah Galela
āPengkaderan ini kami desain untuk mencetak kader transformatif yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga matang dalam spiritualitas dan sosialitas,ā imbuhnya.
Melalui tema besar tahun ini, BADKO HMI Maluku Utara menegaskan bahwa penguatan kapasitas kader adalah kunci kemandirian bangsa.
Krisis politik global tidak boleh melemahkan semangat nasionalisme dan keislaman kader HMI. Sebaliknya, kondisi ini harus menjadi momentum untuk memperkuat daya juang dan daya pikir kader dalam menghadapi tantangan zaman.
āKita ingin kader HMI menjadi subjek perubahan, bukan objek dari arus globalisasi. Mereka harus mampu berdiri tegak, berpikir kritis, dan bertindak untuk kepentingan bangsa,ā pungkas Alfian.
Baca Juga:
Jembatan Ake Tiley Terancam Putus, Warga Desak Pemerintah Segera Bertindak
Ia menambahkan, informasi lebih lanjut mengenai jadwal pendaftaran dan pelaksanaan kegiatan akan diumumkan secara resmi melalui surat edaran dan kanal komunikasi panitia, agar peserta dari seluruh Indonesia memperoleh informasi yang jelas dan terpercaya.
Dengan semangat kebersamaan dan idealisme yang tinggi, BADKO HMI Maluku Utara berharap LK III Tingkat Nasional Tahun 2025 dapat melahirkan kader yang memiliki visi kebangsaan yang kuat,Ā kepekaan sosial yang tinggi, serta komitmen menjaga eksistensi demokrasi dan kedaulatan negara di tengah krisis global yang tak menentu.Ā (*)
(Abi/Red)
