Halmahera Tengah, Intronusantara – Di ufuk Patani, seorang pemuda dengan panggilan akrabnya Sinen menantang samudera. Tiga puluh lima tahun lebih, raga renta itu bergulat dengan gulungan ombak Pasifik, tak gentar meski surya memanggang kulitnya hingga lengan.
Demi menyambung nyawa keluarga tercinta, pada usia 47 bahaya dijadikannya kawan setia. Namun, di balik nyala api semangat itu, tersimpan rintihan perih, jeritan nelayan yang luput dari pandangan penguasa.
Ia, sang komando nelayan Desa Yondeliu, Patani, Halmahera Tengah, memandang luasnya samudera dengan hati yang retak.
Ia melaut bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan peperangan melawan tingginya kebutuhan pasar dan dinginnya abai pemerintah.
“Sudah lama saya jalani profesi ini. Tapi, tak ada bantuan perahu, tak ada alat pancing yang menyapa,” tuturnya lirih, menanti secercah kasih sayang yang kunjung datang.
Di samping itu, Ia merenung, menaruh harap pada sosok ‘IMS ADIL’ sebuah metafora panglima pelindung rakyat agar angin membawa duka nelayan menuju ruang kebijaksanaan.
“Torang punya kebutuhan cuma, tara ada perhatian,” ucapnya pasrah, mengenang nasib 20 nelayan di bawah naungannya yang kini berbalut sunyi.
Bibirnya menabur kritik pedas, sebuah refleksi kegetiran, “Kalau bukan torang, apa kah ada ikan di pasar? Kalau bukan petani, bagaimana mo ada sayur?”
Di sela adzan subuh yang menggema, pemuda gagah berani itu kembali memacu perahu sewaan, menempuh puluhan mil. Tanggungan 25 liter bahan bakar berderu, memikul nasib 7 nelayan yang mengandalkan layar pinjaman.
Di tengah peluh, ia menyentil duri dalam daging, dugaan korupsi bantuan yang salah sasaran di tingkat desa, menuntut tangan penegak hukum yang dinilainya berkarat.
“Hasil mancing jatuh, kami mendamba tampungan pengawet,” rintihnya, berharap bisa menembus pasar perusahaan di kawasan tambang.
Namun sayang, harga minyak yang mencekik dan kehadiran pencatut (tuan pemborong) seringkali merampas keuntungan.
Di pasir panjang, harapan tersisa tipis. Nelayan berjuang di antara ombak dan kejamnya ekonomi, memahat asa di atas samudera, menanti keadilan hadir sebelum perahu mereka karam dimakan waktu.
(Yuda/Red)
Ratapan di Ujung Pasifik, Senandung Nelayan Yondeliu dan Gugatan Sunyi pada Keadilan
Spesial
